pernah ga sih ngerasa kalo dunia ini sebaiknya dikembalikan ke masa lalu? saat handphone, internet, dan sesuatu bernama twitter itu belom ditemukan? saat mendengar musik dilakukan dengan sebuah benda kotak berpita. saat musisi struggling buat bikin satu album terbaik. bukannya satu menit dering rbt terlaku. saat cd masih langka. apalagi cd bajakan. saat orang-orang yg jatuh cinta dengan malu-malu bertanya “nomer telepon rumah kamu berapa?” bukannya “hei, bagi bbm dong!” saya pernah. ralat. saya sering.
bukannya saya kuno. ga update. kuper. tapi saya ga suka saat diri saya mulai terlalu bergantung dengan digital. dunia sepertinya lebih mudah dijalani saat semuanya serba analog. point and shoot. think but not overthink.
saya yg sekarang adalah saya yg bergantung dengan handphone. sebenernya bukan pada kemudahan yg ditawarin. lebih kepada deringnya. bukan sembarang dering. dering yg saya harapkan cuma datang sesekali. kadang cuma menjelang si pendering tidur. atau baru datang ketika saya sudah mendering berkali-kali.
dunia sepertinya lebih mudah dijalani saat seharian-tidak-memberi-kabar itu hal biasa. “saya seharian bekerja. telepon kantor diputus. ga nemu telepon umum juga. maaf ya.” / “oh.oke.istirahat gih”. cukup sesimpel itu tanpa perlu “kok bbm ga dibales?sms?telepon ga diangkat?ym nya online tapi di-buzz ga bales?”. dunia sekarang menawarkan sesuatu yg sulit jadi mudah. dan ketika hal mudah itu alpha dilakukan, kita marah. may i say, makin mudah = makin banyak alasan untuk marah.
saya yg sekarang adalah saya yg terlalu pintar berhipotesa. menyimak timeline twitter itu seperti melihat dunia dari atas. kita bisa tahu siapa jatuh cinta dengan siapa. siapa lagi dimana dengan siapa (walaupun tanpa semalam berbuat apa). siapa membenci siapa. pendapat siapa tentang siapa. dan terlalu banyak tahu mengundang perasaan lain yg more terrible daripada sekedar ‘marah’. perasaan ‘insecure’.
otak saya pun menjadi semakin digital sepertinya. bahkan gimana bagusnya untuk mengakhiri tulisan ini pun saya mikir banget. hell you nokia ! you bastard, jack dorsey !
tamat.
-dan saya pun merasakan hal yang seperti inii.-